Laman

Senin, 17 November 2014

Night at the Museum (16-17 November 2014)



Minggu pagi yang cerah dikala itu aku sedang bersih-bersih rumah sembari menunggu Dedi temanku, kedatangan Dedi itu sebenarnya mau mengajakku ke Mangafest di Jogja National Museum. Malam sebelumnya kami merancanakan kesana, tapi kendalanya kami tak tau rute ke tempat tersebut. Dan akhirnya dengan modal nekat kami berangkat sekitar jam 8 pagi dari rumahku. Setelah melewati Klaten kami sampai di Jl. Jogja-solo menuju ancer-ancer pertama yaitu tugu jogja, sialnya saat itu juga disana sedang ada acara car free day, otomatis jalan disekitar tugu ditutup. Dengan mengandalkan insting kami pun lewat jalan lain sambil bertanya ke orang-orang sekitar sana, setelah muter-muter kami pun sampai di lokasi tujuan sekitar jam 10.15 pagi.
Selama di Jogja sana aku sering kontak sama mbak Lestari yang juga tinggal di Jogja yang kebetulan waktu itu lagi kuliah, rencananya kami mau ketemuan disore hari kalau memungkinkan. Sesampainya disana, kami pun masuk kedalam museum dan melihat lihat beberapa komik yang dipajang di dinding-dinding ruangan, tentu saja komik yang dipajang itu untuk lomba, dibawah komik itu ada kotak suara, yang paling banyak suara dari pengunjung dialah pemenangnya.

Sayangnya temenku yang mau daftar ikut lomba kostum cospaly itu gagal karena kuota pesertanya sudah penuh, walau begitu dia tetap memakai costumnya itu sambil berkeliling sekitar museum dia memakai kostum Gintoki. Sepanjang berkeliling itu temenku banyak dimintai berfoto oleh para pengunjung.

Siang harinya kami pun beristirahat sambil menunaikan sholat dhuhur, akan tetapi disana sedang krisis air, dan kamipun berwudhu seadanya dengan keran yang airnya sangat sedikit. Selepas itu kami melanjutkan berkeliling dan tak disangka aku berjumpa tetanggaku disana dan ditengah keramaian pengunjung aku dan tetanggaku berpisah. Siang hari menjelang sore hujan mulai mengguyur jogja, dan rencana ketemuan aku dan mbak Lestarin pun jadi gagal.
Dedi mulai risau saat itu dia kelupaan meletakkan kunci motornya. Kami pun menuju tempat parkir tapi kuncinya tidak ada, begitupun mencari ditasnya juga tidak ketemu. Akhirnya Dedi menghubungi panitia, disaat yang bersamaan hujan mulai deras ditambah lagi petir yang menyambar dan angin kencang. Kami mulai berdiskusi jika kunci tak ketemu juga terpaksa cari bengkel atau jasa duplikat kunci terdekat. Waktu terus berlalu, tak ada kabar dari panitia bahwa kunci ketemu. Setelah itu kami berpikir untuk mencari bengkel terdekat, namun kami bertanya satpam disana katanya mungkin sudah tutup. Akupun mencoba bertanya pada mbak Lestari apakah ada kenalan tukang kunci terdekat, untung temannya mbak Lestari punya kenalan tukang duplikat kunci namun masalah harga menjadi kendala, setelah berdiskusi singkat dengan Dedi dan hari sudah menjelang malam kami pun memustuskan untuk bermalam di jogja karena hujan tak kunjung reda ditambah lagi mati listrik disana serta belum hafal rute jalan untuk pulang. Selanjutnya kami menentukan dimana nanti akan tidur, sempat juga mbak Lestari menawari untuk bermalam dirumahnya, tapi karena tak tau jalan kesana kami mencari tempat disekitar museum saja. Dedi pun bertanya ke satpam museum apakah boleh untuk tidur disana, dan ternyata diperbolehkan. Kami akhirnya tidur di mushola di dalam area museum.

Keesokan harinya sebelum mencari tukang duplikat kunci terdekat  kami memutuskan untuk mencari sarapan dulu, ditempat kami sarapan si penjual ternyata tau tukang duplikat kunci yang ternyata hanya diseberang jalan dekat tempat itu tapi masih tutup. Setelah sarapan kami kembali ke museum sambil menunggu buka tempat duplikat kunci tersebut. Di pagi itu juga mbak Lestari sempat mau ijin masuk mengajar siang agar bisa menemui kami, tapi sayang rencana ketemuan itu kembali gagal karena sudah ada 2 guru temannya mbak Lestari yang ijin. Sekitar jam 8 pagi aku dan Dedi pun meninggalkan area musem dan bergegas menuju tempat duplikat kunci yang kebetulan sudah buka. Beberapa menit kemudian setelah kunci jadi, kami akhirnya bisa pulang juga, sempat beberapa kali kami berhenti untuk bertanya rute jalan pulang. Akhirnya kami sampai dirumah sekitar jam 10 pagi dengan selamat. Tapi masih mengganjal dalam hati karena belum sempat berjumpa mbak Lestari, padahal itu menjadi moment langka dimana kami berada pada tempat yang paling berdekatan selama ini. Sungguh petualangan yang berkesan dan tak terlupakan.
TAMAT